Namaku Dimas, bukan nama sebenarnya. Ini adalah kisah yang baru saja aku
alami. Aku adalah siswa dari salah satu SMA negeri terkenal. Saat ini
aku duduk di kelas tiga jurusan IPS. Memasuki tahun ajaran baru berarti
persiapan buatku untk lebih serius belajar menghadapi ujian akhir.
Aku tahu aku tidak begitu pintar, maka itu aku selalu mencari cara agar
guru-guru bisa membantuku dengan nilai. Cara yang aku gunakan adalah
selalu mengajukan diri untuk menjadi kordinator pelajaran di sekolah.
Pengalaman menjadi kordinator di kelas tiga inilah yang membawa diriku
ke pengalaman yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup. Awalnya aku
biasa-biasa saja ketika mendengar aku dipilih menjadi koordinator
pelajaran Pendidikan Pancasila. Namun lama-lama aku senang karena
ternyata bu Rita lah yang kembali mengajar kelasku.
Ya, bu Rita adalah guru pancasila saat aku kelas 2. Di kelas 2, bu Rita
sering jadi bahan bisik-bisik teman-teman laki2 ku. Bagaimana tidak, di
kelasku itu, meja guru yang menghadap ke arah murid-murid, di depannya
biasanya khan tertutup, sehingga kaki guru tidak terlihat dari arah
murid, nah, di kelasku mejanya depannya tidak tertutup, jadi setiap guru
yang duduk selalu kelihatan kaki dan posisi duduknya.
Diantara semua guru, bu Yosi, bu Rahma, bu Tati dan sebagainya, mereka
semua sadar akan keadaan meja itu dan sadar bagaimana harus duduk di
kursi itu, hanya bu Rita mutmainah lah yang tidak sadar.
Beliau selalu mengajar sambil duduk dan memberikan pelajaran mengenai
moral pancasila. Bu Rita tidak sadar, jika ia duduk selalu agak
mengangkang dan hampir setiap dia mengajar anak-anak cowo selalu memaksa
duduk di depan supaya bisa lebih jelas melihat paha bu Rita dan celana
dalamnya yang berwarna krem.
Banyak teman-teman yang diam-diam mengambil foto selangkangan bu Rita
dari bawah meja dengan Handphone, namun hasilnya selalu tidak memuaskan
karena gelap. Aku pun termasuk salah seorang dari mereka yang selalu
horny lihat paha bu Rita. Bu Rita berusia 43 tahun, dari logat
bicaranya, beliau orang sunda. Kulitnya putih agak keriput dan
kemerahan. Semakin dia tidak memakai make-up, semakin nafsu
teman-temanku melihatnya. Karena kulitnya menjadi agak mengkilat.
Kembali ke ceritaku, aku pun semakin sering berkomunikasi dengan bu
Rita. Dan aku mencari cara agar aku bisa menarik perhatiannya. Sisi
positifnya membuat aku terpaksa membaca-baca hal-hal soal moral dan
pancasila dan berusaha mencari-cari pertanyaan untuk sekedar aku
tanyakan kepada bu Rita.
Ini supaya bisa menjadi alasan untukku lebih dekat dengannya. Jika
berbicara lebih dekat dengan bu Rita, aku lihat dari dekat kulitnya yang
putih agak berbintik kemerahan dan keriput sedikit disana sini. Pantas
saja bu Rita selalu memakai bedak karena kulitnya akan mengkilat dan
berminyak jika polos. Namun semakin membuatku bernafsu, karena pikiran
ku udah terkotori dengan pengalaman saat kelas dua.
Semaksimal mungkin kubuat bu Rita berpikiran bahwa aku adalah siswa yang
sangat tertarik dengan apa yang ia ajarkan, walaupun sebenarnya
tujuanku adalah dekat dengan dirinya.
Suatu hari aku bertanya apakah aku boleh meminjam beberapa buku mengenai
nasionalisme yang sering bu Rita ceritakan padaku. Bu Rita bilang boleh
saja, kalau mau ke rumah. Yes! akhirnya berhasil strategiku. Bu Rita
memberikan alamat rumahnya yang berada di Perumnas dekat SMA tiga di
kotaku.
Malamnya aku tidak bisa tidur, mengatur rencana seperti apa nanti kalau
aku di rumah bu Rita, mudah-mudahan suaminya belum pulang. Besok aku
akan ke rumah bu Rita sepulang sekolah, kudengar suami bu Rita PNS di
departemen pendidikan daerah, mudah-mudahan suaminya belum pulang
sekitar jam dua sampai jam empat.
Esoknya sepulang sekolah aku langsung ke rumah bu Rita. Tak disangka,
saat aku sedang menyetop angkot untuk pergi ke rumah bu Mumum, ternyata
bu Mumum juga tengah menunggu angkot.
“Eh, Mas, mo krumah ibu? ya sudah bareng saja”, aku senang sekali aku
bisa pergi sama bu Mumum. Aku duduk bersebelahan bu Mumum di kursi depan
angkot. Ooh, pahaku bersentuhan dengan pahanya yang mulus, aku takut
ketahuan kalau penisku sudah mulai mengeras, maka aku tutupi dengan
tasku.
Sepanjang perjalanan bu Mumum cerita tentang keluarganya dan terkadang
sedikit menanyakan tentang keluargaku. Aku berbohong bahwa aku sudah
lama tidak mendapat kasih sayang seorang ibu, karena aku hidup terpisah,
lalu aku bilang senang karena aku merasa bisa mendapatkan kenyamanan
jika berbicara dan ngobrol dengan bu Mumum, rasanya bu Mumum sudah
kuanggap ibu sendiri.
Bu Mumum terharu dan Memegang tanganku!! Kata beliau, beliau senang
mendengarnya lagian menurutnya aku anak yang baik. Dalam benakku, ya,
aku memang anak “baik”, yang siap menikmati tubuh ibu. Aduh penisku
sampai keluar pelumas saat itu, basah sekali.
Dua puluh menit kemudian, sampailah kami di rumah beliau. Ternyata
dugaanku benar, tidak ada seorangpun di rumah beliau. Aku dipersilahkan
duduk di ruang tamu. Bu Mumum bilang tunggu sebentar untuk ganti baju.
Ganti baju??! dalam benakku aduh ingin sekali aku mengintip beliau ganti
baju. Aku deg-degan, mataku mengarah kemana bu Rita pergi. Beberapa
menit bu Rita keluar. Masih memakai baju gurnya sambil membawa buku.
Yah, ternyata hari itu belum waktunya untukku, tapi ini adalah awal dari
pengalaman yang sebenarnya.
Sejak itu aku jadi sering ke rumah bu Rita dan kenal dengan keluarganya.
Akhirnya puncak pegalaman ini, saat aku pura-pura menangis sedih
frustasi akibat ayahku mau menikah lagi dan aku tidak setuju, karena itu
ayahku mengusirku dan tidak boleh pulang ke rumah. Tentu saja ceritanya
aku karang sendiri.
Bu Rita sangat bersimpati padaku, saat aku cerita panjang lebar di
rumahnya tidak ada siapa-siapa, bu Rita saat itu memakai daster dan
tanpa make-up duduk disebelaku sambil memegang pundakku. Aku menangis
pura-pura, bu Rita menenangkan ku dengan memelukku.
Mmh, aku menyentuh pinggiran payudara bu Rita. Akhirnya aku mencium
aroma tubuhnya. Aku mempererat pelukanku dan kepalaku aku sandarkan di
leher bu Rita. aku bisa menghirup aroma lehernya. Bu Rita memelukku erat
pula. Secara nekat kuberanikan diriku untuk mencium pipi bu Rita secara
lembut. Dan bilang kalau aku minta maaf tapi aku merasa cuma bisa
tenang jika dekat ibu Rita.
Bu Rita bilang tidak apa-apa. Aku pun memberanikan mencium pipinya lagi,
tapi kali ini lebih dekat ke pinggiran bibir, cukup lama kutempelkan
bibirku di pinggiran bibirnya. Bu Rita diam saja sambil terus memelukku
dan mengelus-elus punggunggu sambil menenangkan. Apakah bu Rita terasa
bahwa penisku yang sudah menegang kutempelkan di pahanya.
Ku coba menggesek-gesekkan perlahan penisku ke paha bu Rita. Bu Rita
tahu. Namun beliau diam saja. Aku pegang pipi beliau, tentunya air
mataku masih mengalir, sambil aku lekatkan bibirku dengan bibirnya
sambil berkata “Ibu…”, bibir bu Rita tidak terbuka, beliau tetap diam,
walaupun bibirku bergerak-gerak mencium bibirnya.
Berbarengan dengan itu, aku tekan dan gesekkan terus penisku yang sudah
basah ke paha bu Rita. Kami berdua duduk di sofa. Bu Rita tahu aku
sedang apa dan beliau diam saja, mebiarkan ku beronani dengan
menggunakan paha dan bibirnya sebagai media masturbasiku.
Aku gesek-gesekkan terus dan terus, bu Mumun tampaknya memejamkan mata
dan tidak berkata apa-apa. OOh pembaca, wajahnya aku ciumi, nafasnya aku
hirup, dan pahanya yang besar dan lembut aku tekan-telan dengan penis,
gesek terus.. Ooh..terus… Dan akhirnya ouuhh.. Cepat sekali aku
ejakulasi.
Aku pun lemas sambil memeluk ibu Rita yang hampir posisinya setengah
tertidur di sofa akibat aku tekan terus. Bu Rita pelan-pelan bilang,
“udah..? hm?”, kata bu Rita pelan dan terdengar sayang sekali denganku.
Aku minta maaf sekali lagi dan bu Rita bilang ia mengerti. Tentunya
setelah kejadian itu, aku semakin dekat dengan ibu, sampai detik ini..
Suaminya dan teman-temanku tidak tahu hubungan kami.
Walaupun aku belum sampai berhubungan seks dengan bu Rita, namun bu Rita
selalu tahu dan bersedia menjadi media onaniku, dengan syarat pakaian
kami masih kami kenakan, bu Rita hanya menyediakan pahanya dan
memperbolehkan aku menindihnya dan menekan-nekan penisku ke paha dekat
selangkangannya sampai aku dapat klimaks.
Maka itu, aku selalu membawa celana dalam cadangan saat aku bilang ke bu Rita kalau aku ingin ke rumah ibu Rita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar